BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
HIV (Human Immunodefisiensiensi Virus) adalah virus
golongan retrovirus yang dapat bertahan dalam sel hidup dari organisme lain. Sindrom
Immunodefisiensi yang didapat (AIDS=Acquired immunodeficuency syndrome) adalah
suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh retrovirus yang dikenal dengan nama
Human T-cell lympotropic virus (HIV).
Indonesia
telah memasuki epidemi gelombang kelima dengan tanda munculnya infeksi HIV pada
ibu rumah tangga. Tahun 1998 tercatat ada sekitar 764 kasus, tetapi kasus ini
masih diragukan karena tidak ada orang yang bersedia secara sukarela untuk
melakukan pemeriksaan terhadap dirinya. Penyakit HIV merupakan penyakit yang
diibaratkan gunung es, dimana pangkalnya jauh lebih besar dari ujungnya yang tampak
pada permukaan.
Setiap tahun lahir sekurangnya 7000 bayi dari ibu yang terinfeksi oleh HIV. Risiko penularan vertikal desertai oleh penyakit tingkat lanjut, hitung limfosit CD4 (T4) rendah, dan beban virus meningkat. Risiko penularan 8-30%.
Menurut WHO sekitar 10 juta bayi lahir hidup di seluruh dunia terinfeksi dengan virus HIV dimana 600.000 bayi terinfeksi dengan transmisi perinatal.
Setiap tahun lahir sekurangnya 7000 bayi dari ibu yang terinfeksi oleh HIV. Risiko penularan vertikal desertai oleh penyakit tingkat lanjut, hitung limfosit CD4 (T4) rendah, dan beban virus meningkat. Risiko penularan 8-30%.
Menurut WHO sekitar 10 juta bayi lahir hidup di seluruh dunia terinfeksi dengan virus HIV dimana 600.000 bayi terinfeksi dengan transmisi perinatal.
Tumbuhan ganja telah dikenal manusia sejak lama dan
digunakan sebagai bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya kuat.
Biji ganja juga digunakan sebagai sumber minyak.
Namun demikian, karena ganja juga dikenal sebagai
sumber narkotika dan kegunaan ini lebih bernilai ekonomi, orang lebih banyak
menanam untuk hal ini dan di banyak tempat disalahgunakan.
Di sejumlah
negara penanaman ganja sepenuhnya dilarang. Di beberapa negara lain, penanaman
ganja diperbolehkan untuk kepentingan pemanfaatan seratnya. Syaratnya adalah
varietas yang ditanam harus mengandung bahan narkotika yang sangat rendah atau
tidak ada sama sekali.
1.2.
Tujuan
1.2.1.
Mahasiswa
dapat memahami tentang pengertian HIV dan dapat mengetahui jenis – jenis penyakit yang terdapat di HIV
1.2.2.
Mahasiswa
dapat memahami struktur dari HIV
1.2.3.
Mahasiswa
mampu menjelaskan gejala – gejala utma yang terdapat di AIDS
1.2.4.
Mahasiswa
dapat memahami tentang penularan HIV yang terjadi pad ibu ke bayinya
1.2.5.
Mahasiswa
dapat mengetahui tentang faktor – faktor yang terjadi pada ibu yang menyusui
1.3.
Rumusan Masalah
1.3..1.Bagaimana proses penularan virus HIV?
1.3..2.Gejala apa saja yang harus diwaspadai
dalam penularan virus HIV?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian HIV
HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. HIV merupakan penyebab dasar AIDS (Acquired Immune
Deficiency Syndrome). Pengertian
dari AIDS itu sendiri adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem
kekebalan tubuh manusia.
2.2. Struktur HIV
Besar
virusnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60
kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya spherical.
Ini merupakan
struktur HIV

2.3.
Penularan HIV
2.3.1.
Secara Umum
HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks
oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum
terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara
ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui.
2.3.2. Dari ibu ke bayi
Cara
penularan HIV dari ibu ke bayi belum diketahui secara pasti. Namun kebanyakan
penularan terjadi saat persalinan(waktu bayi dilahirkan). Selain itu bayi juga
dapat tertular waktu disusui. HIV menular melalui
hubungan kelamin dan hubungan seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum
terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara
ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. Ada beberapa faktor resiko yang
meningkatkan kemungkinan penularan akan terjadi. Yang paling mempengaruhi
adalah tingkat viral load (jumlah virus dalam darah) ibunya.
Oleh karena itu salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak terdeteksi- seperti juga ART untuk siapa pun dengan HIV. Viral load terutama penting pada waktu melahirkan. Jangka waktu antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor resiko penularan.
Oleh karena itu salah satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak terdeteksi- seperti juga ART untuk siapa pun dengan HIV. Viral load terutama penting pada waktu melahirkan. Jangka waktu antara saat pecah ketuban dan bayi lahir juga merupakan salah satu faktor resiko penularan.
Faktor
resiko lain termasuk kelahiran prematur ( bayi lahir terlalu dini) dan
kekurangan perawatan HIV sebelum melahirkan. Beberapa pokok kunci:
·
Status
HIV bayi dipengaruhi oleh kesehatan ibunya.
·
Status
HIV bayi tidak dipengaruhi sama sekali oleh status HIV ayahnya.
·
Status
HIV bayi tidak dipengaruhi oleh status HIV anak lain dari ibu.
2.4.
Gejala – Gejala Utama AIDS
Berbagai
gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang – orang yang memiliki sistem
kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh
bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur –
unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum
didapati pada penderita AIDS. HIV hampir memepengaruhi semua organ tubuh.
Penderita AIDS juga beresiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma
kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.
Biasanya
penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik, seperti demam, berkeringat
(terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah,
serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien
AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di
wilayah geografis tempat hidup pasien.

2.5.
Diagnosis HIV
2.5.1.
Pada ibu
Ditegakkan
berdasarkan pemeriksaan laboratorium :
Ø Uji antibodi HIV digunakan untuk menapis
infeksi.
Ø Pengujian ELISA atau EIA positif secara
berulang, diperkuat dengan uji Western blot sebelum hasil positif tersebut
dilaporkan.
Ø Untuk hasil positif palsu, dilakukan
reaksi silang ELISA dan EIA dengan antibodi-antibodi lain.
Ø Uji Western blot yang belum pasti harus diulang
dalam 3 sampai 6 bulan.
Ø Jarang terjadi hasil positif palsu dari
uji Western blot.
Ø Hasil yang belum jelas harus diperkuat
dengan biakan virus atau uji PCR.
Ø Uji PCR dan biakan virus sangat sensitif,
karena diuji langsungterhadap keberadaan virus, namun sangat mahal.
Ø Pengukuran PCR terhadap muatan virus juga
digunakan untuk memonitor perjalanan infeksi dan respons terhadap pengobatan.
2.5.2.
Pada bayi
Infeksi HIV
dapat terjadi pada bayi selama kehamilan, saat melahirkan, dan waktu menyusui.
Bila infeksi menularkan melalui ASI, antibodi yang dicari oleh tes HIV baru
terbentuk dengan jumlah yang cukup untuk dideteksi setelah beberapa bulan. Jadi
sebaiknya menunggu sedikitnya tiga bulan setelah penyusuan dihentikan sebelum
tes HIV dilakukan.
Ada dua
macam tes yang dapat dilakukan:
Ø Tes Antibodi
Ø Tes Virus
2.6.
Pengobatan Infeksi HIV
Pengobatan
infeksi HIV belum diketemukan dengan baik karena duplikasi virus berlangsung
sangat cepat, yaitu sekitar 6 jam, serta tidak mempunyai bentuk yang khas. Oleh
karena itu, antibodinya belum ditemukan dengan pasti. Pengobatan yang diberikan
saat ini hanya dalam bentuk antivirus yang diharapkan agar duplikasi dapat
dihambat sehingga umur penderita dapat diperpanjang. Obat yang paling banyak dipergunakan
adalah Zidovidine (AZT-ZDV) 2 kali 100 mg. Pengobatan ini mempunyai arti
menghambat pertumbuhan reduplikasi virus sebagai profilaksis dan ditambah
dengan pengobatan infeksi sekunder.
Profilaksis
infeksi HIV dilakukan dengan mempergunakan kondom dan bila pada pemerikasaan
telah terjadi infeksi segera diberikan Zidovudine (ZDV) dengan selalu melakukan
pemeriksaan terhadap CD4 dan T sel darah.
Zidovudine (ZDV) bisa menurunkan mortalitas maternal dan memperlambat permulaan infeksi mengambil kesempatan. Obat ini ditujukan untuk pasien-pasien yang terinfeksi HIV dengan hitung limposit CD4 kurang dari 200 sel/mm3. dosis initial per os adalah 100 mg lima kali sehari. ZDV intravena yang diberikan dalam persalinan harus terdiri dari dosis permulaan 2 mg/kg seterusnya diikuti dengan infus 1 mg/kg sampai selesai melahirkan. Hitung darah harus dilakukan setiap bulan, keracunan darah mengharuskan penghentian sementara pemberian obat atau pengurangan dosis, walaupun kemanjuran dosis yang rendah belum diketahui dengan pasti. Pengaruh sampingan utama adalah pankreatitis dan neuropati pada saraf perasa yang menimbulkan rasa nyeri. Belum ada laporan tentang malformasi dari pengobatan ini. Bayi baru lahir harus terus diobati setiap hari selama 6 minggu.
Zidovudine (ZDV) bisa menurunkan mortalitas maternal dan memperlambat permulaan infeksi mengambil kesempatan. Obat ini ditujukan untuk pasien-pasien yang terinfeksi HIV dengan hitung limposit CD4 kurang dari 200 sel/mm3. dosis initial per os adalah 100 mg lima kali sehari. ZDV intravena yang diberikan dalam persalinan harus terdiri dari dosis permulaan 2 mg/kg seterusnya diikuti dengan infus 1 mg/kg sampai selesai melahirkan. Hitung darah harus dilakukan setiap bulan, keracunan darah mengharuskan penghentian sementara pemberian obat atau pengurangan dosis, walaupun kemanjuran dosis yang rendah belum diketahui dengan pasti. Pengaruh sampingan utama adalah pankreatitis dan neuropati pada saraf perasa yang menimbulkan rasa nyeri. Belum ada laporan tentang malformasi dari pengobatan ini. Bayi baru lahir harus terus diobati setiap hari selama 6 minggu.
Pada bulan
1994, dinas kesehatan nasional menghentikan penelitian klinik tentang
penyelidikan pengaruh ZDV terhadap penularan HIV dari pasien-pasien yang
terinfeksi kepada bayi mereka karena penularan virus secara vertikal menurun
sebanyak dua pertiga. Ini adalah hasil dari suatu uji coba berkontrol yang
dilakukan secara acak pada pasien-pasien yang memenuhi persyaratan kriteria
penelitian. Tetapi harus didiskusikan dan ditawarkan kepada semua wanita hamil
yang terinfeksi HIV.
Pemakaian zidovudin (retrovir) untuk mengurangi penularan perinatal Zidovudin (retrovir) juga dikenal sebagai ZDV, dahulu disebut AZT.
Pemakaian zidovudin (retrovir) untuk mengurangi penularan perinatal Zidovudin (retrovir) juga dikenal sebagai ZDV, dahulu disebut AZT.
Pengobatan Selama kehamilan
Berdasarkan
pada protokol 076 untuk kelompok uji coba klinis AIDS (AIDS Clinical Trial
Group/ACTG), semua wanita yang hamil dan positif HIV harus dirujuk untuk terapi
ZDV setelah trimester pertama.
Program yang
biasa digunakan adalah :
o
ZDV
100 mg PO, 5 x sehari (protokol 076)
o
ZDV
200 mg PO, 3 kali sehari. Klien dengan anemia (Hb kurang dari 9) perlu
dipertimbangkan untuk mendapatkan transfusi, eritropoetin atau menghentikan
pengobatan.
Pengobatan Pada persalinan
ZDV
diberikan secara IV sebagai dosis pembebanan 2 mg/kgBB selama lebih dari satu
jam, dilanjutkan dengan 1 mg/kgBB tiap jam sampai kelahiran.
Pengobatan Pada bayi baru lahir
Syrup ZDV oral
2 mg/kgBB tiap 6 jam selama 6 minggu, yang dimulai pada 12 jam pertama
kehidupan.
Namun
demikian obat ini memiliki efek samping antara lain : Anemia, Neutropenia,
Nausea, Insomnia, sakit kepala, ruam di kulit, dan Malaise.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan
seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi
melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara ibu dan bayinya
selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui.
Saran
Saran dan kritik dari pembaca atas makalah yang
kami tulis ini sangat di perlukan agar dapat di perbaiki pada penulisan makalah
selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
http://maldezcount.blog.friendster.com/
Barré-Sinoussi,
F., Chermann, J. C., Rey, F., Nugeyre, M. T., Chamaret, S., Gruest, J.,
Dauguet, C., Axler-Blin, C., Vezinet-Brun, F., Rouzioux, C., Rozenbaum, W. and
Montagnier, L. (1983) Isolation of a T-lymphotropic retrovirus from a patient
at risk for acquired immune deficiency syndrome (AIDS) Science 220, 868-871 PMID 6189183
Bentwich, Z., Kalinkovich., A. and Weisman, Z.
(1995) Immune activation is a dominant factor in the pathogenesis of African
AIDS. Immunol. Today 16,
187-191 PMID 7734046
Bukrinsky M, Adzhubei A. (1999) Viral protein R
of HIV-1. Rev Med Virol 9,
39-49 PMID 10371671
Campbell GR, Pasquier E, Watkins J,
Bourgarel-Rey V, Peyrot V, Esquieu D, Barbier P, de Mareuil J, Braguer D,
Kaleebu P, Yirrell DL, Loret EP. (2004) The glutamine-rich region of the HIV-1
Tat protein is involved in T-cell apoptosis. J. Biol. Chem. 279, 48197-48204 PMID 15331610
Carr, J. K., Foley, B. T., Leitner, T.,
Salminen, M., Korber, B. and McCutchan, F. (1998) Reference Sequences
Representing the Principal Genetic Diversity of HIV-1 in the Pandemic. In: Los Alamos National Laboratory (Ed) HIV Sequence
Compendium, pp. 10-19
Chan, D. C. and Kim, P. S. (1998) HIV entry and
its inhibition. Cell 93,
681-684 PMID 9630213
Coakley, E., Petropoulos, C. J. and Whitcomb,
J. M. (2005) Assessing chemokine co-receptor usage in HIV. Curr Opin Infect
Dis. 18, 9-15. PMID 15647694
Tidak ada komentar:
Posting Komentar